Cinta yang Hilang

"Cinta yang Hilang"

Oleh: priyo subekti - 03/03/2008 - 12:12:10
Kata Kunci: cinta, love

CINTA YANG HILANG


Pengantar
Cinta, cinta adalah sesuatu yang diimpikan oleh setiap orang. Cinta itu indah, cinta itu semangat, motivasi dan suatu tujuan akhir. Semua orang pasti ingin mencintai atau dicintai oleh orang lain, oleh diri sendiri dan Tuhan. Manusia dapat hidup karena cinta, cinta diri dan cinta sanak famili. Orang tua susah payah mencari nafkah membanting tulang dikarenakan cintanya pada buah hatinya, mereka ingin melihat buah hatinya tumbuh besar dan bahagia. Cinta sesama, manusia adalah makhluk sosial yang butuh perhatian dari orang lain, manusia tidak akan dapat hidup sendiri, dan mereka butuh suatu kelompok yang akan memberikan identitas bagi mereka. Cinta pada Tuhan, manusia memiliki naluri keagamaan yang membuat mereka merasakan adanya suatu kekuatan apriori yang Maha Besar, dengan mencintai Tuhan mereka akan merasakan suatu ketenangan rohani atau jiwa yang dapat meredam emosi negatif. Tanpa cinta manusia akan susah hidup, mereka akan hidup dengan nafsu, dan tentunya kekacauan akan timbul dimana-mana yang pada akhirnya akan menghancurkan mereka sendiri.
Banyak cerita mengenai cinta yang tersebar di seluruh pelosok dunia, para orang tua banyak bercerita mengenai kebaikan-kebaikan orang dahulu yang bersahaja dan ramah tamah, cerita cinta dari Shakespeare ‘Romeo dan Julet” yang melegenda di kalangan para remaja, cerita cinta Sinta dalam Ramayana, dan masih banyak lagi versi-versi mengenai cerita cinta. Baik itu cinta sesama, cinta erotis (lawan jenis), cinta orang tua kepada anaknya, cinta manusia pada Tuhannya dan lain-lain.
Namun jika kita melihat peristiwa-peristiwa yang banyak terjadi belakangan ini, sepertinya makna cinta atau bahkan cinta itu sendiri sudah hampir ‘punah’. Hal itu dapat dilihat dari serentetan kejadian yang marak di tanah air ini. Perang saudara yang terjadi di Maluku, ‘trend’ baru pembantaian dukun santet, tawuran yang menimbulkan korban jiwa, dan maling-maling kelas teri yang mencuri karena lapar dibantai habis. Apakah memang di Indonesia ini sedang terjadi suatu ‘krisis’ cinta selain dari krisis ekonomi dan politik? Indonesia saat ini butuh seorang ‘pahlawan’ yang dapat menyerukan dan menebarkan kembali benih-benih cinta diantara sesamanya, bukan ‘pahlawan’ yang menggembar-gemborkan keadilan politik yang sama sekali tidak dimengerti oleh orang awam.
Indonesia, menurut lagu “kolam susu” adalah negara yang makmur, subur, aman, tentram loh jenawi, sekarang ini hanyalah sebuah khayalan belaka. Betapa tidak dengan melihat kondisi negara yang seperti ini apakah dapat disebut dengan ‘loh jenawi’. Memang tidak semua warga Indonesia yang telah melupakan hati nuraninya, tetapi hal negatif akan sangat mudah untuk menyebar. Dan mungkin tahun depan atau beberapa tahun lagi, cinta akan benar-benar hilang dari bumi Indonesia ini.

Cinta selayang pandang
Kata cinta, identik dengan kasih sayang. Cinta memegang peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia, sebab cinta merupakan landasan dalam kehidupan perkawinan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak, hubungan yang erat di dalam masyarakat dan hubungan manusiawi yang akrab. Demikian pula cinta adalah pengikat yang kokoh antara manusia dengan Tuhannya sehingga manusia menyembah Tuhan dengan ikhlas, mengikuti perintah-Nya dan berpegang teguh pada jalan-Nya.
Dalam kehidupan manusia, cinta menampakkan diri dalam berbagai bentuk, mulai dari cinta seseorang pada dirinya sendiri, istrinya, anaknya, hartanya dan tuhannya. Bentuk cinta ini melekat pada manusia, potensi dan frekuensinya berubah menurut situasi dan kondisi yang mempengaruhinya. Cinta orang tua pada anaknya sangat kuat dan dapat mengalahkan cintanya pada harta benda. Dan yang paling berpengaruh lagi adalah cinta yang sebenar-benarnya pada Tuhan YME.
Sebagai manifestasi perasaan cinta, manusia mempunyai banyak lambang tentang cinta. Lambangnya dapat berbentuk bunga, warna atau cium tangan dll. Cinta tidak mudah diterangkan dan diilustrasikan dengan kata-kata. Ia memiliki daya luar biasa pada diri manusia serta melekat dengan kuat. Cinta dapat sekonyong-konyong muncul, dan hilang sama sekali dan terus tumbuh seperti cintanya orang tua terhadap anaknya. Cinta dapat dilukiskan dengan menolong, melakukan apa saja, memberi, bukan meminta, sebagai dorongan mulia untuk menyatakan eksistensi dirinya kepada orang lain.
Cinta dapat diuraikan menjadi beberapa bentuk yaitu sebagai berikut:
1) Cinta diri  Secara alamiah manusia mencintai dirinya sendiri, dan sebaliknya manusia membenci segala sesuatu yang menghalanginya atau menghambatnya. Manusia benci segala sesuatu yang mendatangkan penderitaan, rasa sakit dan marabahaya lainnya. Cinta diri erat hubungannya dengan menjaga diri. Manusia menuntut segala sesuatu yang bermanfaat dan berguna untuk dirinya sendiri. Namun cinta diri yang berlebihan dapat membawa dampak buruk, karena itu harus diimbangi dengan cinta kepada orang lain.
2) Cinta kepada sesama manusia Cinta terhadap sesama merupakan suatu naluri manusia itu sendiri, selain dari nalurinya untuk bermusuhan dan pembenci. Motivasi seseorang mencintai sesamanya, menurut persepsi sosiologis dikarenakan manusia tidak dapat hidup sendirian. Individu memiliki kekurangan dan kelebihan tersendiri dan hal itu akan dapat tutup menutupi dengan orang lain dalam suatu kerja sama. Cinta kepada sesama inilah yang dapat membuat manusia saling bekerja sama dan bermasyarakat. Persatuan dan kesatuan bangsa dapat diciptakan karena hal ini.
3) Rasa kasihan Kasihan adalah sebuah emosi, yang mempunyai kekuatan untuk mendorong kita bertindak memberikan bantuan kepada orang lain.Rasa kasihan merupakan sentimen, yang dalam hal ini berarti suatu emosi yang abstrak yang tidak membeda-bedakan antara orang yang kita kenal atau tidak. Dengan rasa kasihan, ini menjadikan manusia tetap sebagai ‘manusia’ yang dapat terketuk nuraninya ketika melihat hal-hal tertentu yang butuh uluran kemanusiaan.
4) Cinta Erotis Cinta erotis adalah kehausan akan penyatuan sempurna akan penyatuan dengan yang lainnya. Keinginan untuk bersatu dan berteman dengan lawan jenis, untuk menghilangkan sepi atau untuk menenangkan suatu naluri seksual. Cinta kasih dapat merangsang keinginan untuk bersatu secara seksual. Namun apabila penyatuan fisis tadi tidak dilandasi oleh cinta kasih maka hanya akan membawa pada penyatuan yang bersifat pesta pora dan sementara saja. Cinta kasih erotis, apabila benar-benar sebuah cinta sejati, mempunyai satu pendirian yaitu bahwa seseorang sungguh-sungguh mencintai dan mengasihi dengan jiwanya yang sedalam-dalamnya dan menerima pribadi lawan jenisnya. Cinta ini terjadi antara dua orang anak manusia berlainan jenis, yang ingin menyatukan diri mereka untuk mengisi kekosongan hidup dan sebagai teman hidup dalam mengarungi bahtera kehidupan.

Cinta yang Hilang
“Maling ayam tewas di eksekusi pengadilan jalanan” Itulah salah satu judul yang terdapat di salah satu harian umum. Judul tersebut dapat menandakan bahwa bangsa Indonesia kini telah kehilangan naluri kasihnya. Bisa dibayangkan mengapa warga begitu tega membunuh seorang pencuri, yang mungkin saja dia mencuri karena terpaksa. Semurah itukah harga nyawa sekarang ini, harga sebuah nyawa dapat disamakan dengan ayam, kambing dan lainnya. Bahkan ada juga yang antar kampung saling bentrokkan hanya karena masalah sepele. Kasus tawuran yang terjadi di Indramayu akhir-akhir ini, pangkal permasalahannya hanya sekedar’saling senggol’ saja dalam sebuah arena kesenian. Belum hilang dari ingatan kita tentang kasus pembantaian para dukun santet yang dihabisi dengan cara dibakar. Dan banyak kasus perkosaan, perampokan, pemerasan dan kriminalitas lainnya yang tak akan cukup dituliskan di sini.
Dari sekelumit peristiwa di atas dapat disimpulkan bahwa saat ini masyarakat sudah banyak kehilangan rasa cinta, hati nurani dan akal sehatnya. Namun keadaan sekarang ini kita tak dapat menyalahkan langsung kepada mereka, tetapi apakah yang membuat mereka sampai sebegitu kejamnya. Menurut hemat penulis hal tersebut terjadi dari keinginan dan hasrat yang kuat dari masyarakat untuk mendapatkan hukum yang jurdil, meluap melampaui alam bawah sadarnya sehingga ketika tersulut emosi mereka meledak tak tertahan. Hasrat yang kuat tersebut saat sekarang telah berkembang luas yang ditampilkan dalam berbagai aksi dan pernyataan yang hampir kita temukan setiap hari. Serentetan kejadian tersebut diakibatkan oleh tidak stabilnya kondisi politik dan ekonomi di negeri kita ini.
Solusi untuk menanggulangi hal ini adalah kita harus memupuk selalu rasa cinta terhadap sesama yang akan menimbulkan suatu rasa toleransi antar sesama. Namun apakah cinta akan kembali terwujud dan dapat bersinar lagi?
Share


Keterangan Penulis Artikel:
Nama: priyo subekti
E-mail: priyo_subekti@yahoo.co.id
Nama Institusi: Fikom Unpad
Alamat Institusi: Unpad Jatinangor