Pamali, Tradisi Budaya Lisan Leluhur Sunda

"Pamali, Tradisi Budaya Lisan Leluhur Sunda"

Oleh: Kang Dekan - 13/01/2007 - 04:06:54
Kata Kunci: Pamali

Pamali, Tradisi Budaya Lisan Leluhur Sunda
Oleh: DEDE MULKAN

“SEORANG gadis tidak boleh duduk di dekat pintu, karena kelak dia akan susah mendapatkan jodoh. Seorang gadis juga jangan keramas pada hari Sabtu, karena berakibat akan mempunyai seorang suami penyiksa. Anda juga tidak boleh berpindah tempat ketika sedang makan, karena kelak setelah menikah, akan berganti pasangan”

Tradisi lisan seperti itu pernah dikenal dalam budaya lisan leluhur Sunda. Bahkan hingga kini masih ada sebagian masyarakat yang ”percaya” terhadap tradisi lisan tersebut. Kalangan leluhur Sunda menyebut petuah-petuah seperti itu dengan satu kata yaitu ”pamali”. Kata pamali digunakan untuk mengatakan segala sesuatu yang bersifat tabu, jangan sekali-kali kita menanyakan mengapa ia bisa disebut pamali.

Pamali adalah sebuah larangan untuk melakukan atau mengucapkan sesuatu yang berakibat buruk bagi diri dan lingkungannya. Jika dilanggar, biasanya berhubungan dengan rizki, jodoh, keturunan dan keselamatan.

Pamali, biasanya berhubungan dengan sebuah kata lainnya yaitu Mitos, yang dianggap sebagian orang sebagai cerita yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya berdasarkan rasio dan logika manusia, karena mitos adalah kumpulan cerita atau hal-hal yang dipercayai secara turun-temurun oleh suatu kelompok masyarakat tertentu. Maka Mitos dianggap memiliki hubungan tertentu dengan kehidupan manusia di masa sebelumnya. Banyak orang tua yang sampai sekarang masih memegang teguh kepercayaan mereka tentang kebenaran sebuah mitos.

Tentu ada alasan yang kuat dibalik mitos yang mereka percayai itu. Alasan itu bisa merupakan hal yang sebenarnya atau hanya karena mereka sudah terbiasa hidup dengan mitos tersebut. Kadang-kadang kata pamali dan mitos jauh lebih ampuh dibanding dengan hukum atau aturan udang-undang. Jika kita telusuri alasan dibalik kata pamali, memang ada pesan-pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Ada lagi sebuah kata yang erat dengan kata “pamali” dan “mitos”, yaitu adat yang berasal dari Bahasa Arab. Adat artinya segala hal yang senantiasa tetap atau sering diterapkan kepada manusia atau binatang yang mempunyai nyawa.

Kata adat dipergunakan untuk menghaluskan perbuatan, perlakuan, yang membuat kebaikan dengan orang lain, yang sama adatnya dan tata cara pada umumnya. Dalam Bahasa Sunda ada istilah "kuat adat batan warah, ucing nyandingkeun paisan", yang artinya lebih kuat adat daripada pendidikan, seperti kucing mendampingi ikan, sebab pendidikan yang datangnya baru, walaupun sudah melekat dalam hatinya, kadang-kadang dilanggar, dan kembali lagi kepada adat kebiasaan asal yang dibawa secara kodrati.

Salah satu contoh kehidupan yang hingga kini masih memegang teguh kata-kata pamali, mitos dan adat, adalah komunitas Kampung Naga, Tasikmalaya. Salah satu keunikan Kampung Naga adalah pola hidup penghuninya, yang di jaman kini jarang ditemukan di daerah lain, yakni kehidupan yang selaras dengan alam.

Banyak di antara peneliti yang penasaran ingin mengetahui, apa rahasianya sehingga warga Kampung Naga mampu menjaga dengan baik hutan mereka, tanaman dan air yang ada di wilayahnya. Salah seorang sesepuh masyarakat di Kampung Naga, menyebut satu kata, yaitu: Pamali, itulah kata kuncinya.

Segala sesuatu yang dilarang untuk dilakukan di Kampung Naga berawal dari sebuah kata kunci tadi. Bagi masyarakat Kampung Naga, pamali merupakan larangan melakukan sesuatu yang dianggap tidak baik. Larangan itu berasal dari pemimpin dan nenek moyang mereka sebelumnya. Itu dipercaya serta dipatuhi oleh warga secara turun temurun hingga sekarang.

Pamali mengambil ikan dengan racun, pamali mengotori air sungai dengan sabun, pamai menebang pohon di hutan, merupakan beberapa contoh larangan yang diterapkan komunitas Kampung Naga. Orang Kampung Naga banyak sekali menggunakan kata pamali, mulai dari hal yang sepele sampai hal-hal yang besar. Dengan kata mujarab pamali inilah orang-orang di Kampung Naga menjaga kelestarian lingkungan hidupnya sampai ratusan tahun. Tidak ada peringatan dilarang menebang pohon di tempat itu, tidak ada rambu larangan membuang sampah ditempel di pinggir sungai. Di sana memang tidak ada aturan tertulis, semuanya hanya diketahui dari mulut ke mulut. Menurut sesepuh Kampung Naga, sejak kecil anak-anak di sana sudah tahu apa-apa yang tidak boleh dilakukan dan apa yang harus dilakukan. Pengetahuan itu di dapat dari orang tua, kakek dan nenek mereka secara turun temurun.

Uniknya lagi, meski tidak ada peraturan yang jelas dan tertulis, tami semua orang menjadi patuh dan taat. Dengan peraturan pamali di Kampung Naga, tidak ada yang perlu ditanyakan lagi. ”Kita tidak boleh bertanya lagi kenapa itu dilarang.”

Ketaatan kepada pemimpin juga tak bisa ditawar-tawar. Sebagai masyarakat tradisional, orang Kampung Naga sangat patuh kepada pemimpinnya. Pemimpin dianggap orang suci yang memiliki kharisma.

Unsur kepercayaan banyak berpengaruh dalam interaksi sosial suatu kelompok masyarakat. Bahkan, unsur kepercayaan ini dapat menjadi ciri khas (tipikal) suatu masyarakat dalam melakukan interaksi sosial dan cara-cara masyarakat berkomunikasi. Hal ini mempengaruhi pula pola pikir suatu masyarakat tradisional bahkan masyarakat yang modern peradabannya.

Kepercayaan tidak dapat dipisahkan dari nilai. Jika kepercayaan bersifat kognitif, maka nilai bersifat evaluatif. Kepercayaan merupakan suatu pandangan-pandangan subyektif yang diyakini individu, bahwa suatu obyek atau peristiwa memiliki karakteristik-karakteristik. Budaya sangat memainkan peranan penting dalam membentuk suatu kepercayaan di tengah-tengah masyarakat. Kepercayaan dan nilai yang diyakini memberikan kontribusi bagi pengembangan isi sikap, yang kemudian diekspresikan dalam peristiwa komunikasi. Dalam konteks Antropologi, unsur kepercayaan ini malah diterjemahkan sebagai suatu ”kearifan lokal”. Sesuatu nilai (value) yang dipercayai dan dipelajari secara tradisional dan turun-menurun.

Kepercayaan yang diyakini seseorang akan memengaruhi cara ia berperilaku dan berkomunikasi. Dell Hymes (1973), seorang ahli antropologi budaya memandang komunikasi sebagai unsur penting dalam memahami suatu kepercayaan yang tumbuh dalam suatu budaya.

Dalam kajian etnografi, kepercayaan yang berkembang di suatu ras, etnis, dan kelompok masyarakat tertentu, akan memengaruhi pola-pola komunikasi masyarakat, baik komunikasi verbal maupun nonverbal sebagai simbol pemaknaan terhadap suatu gagasan atau materi.

Selama ini, terdapat kesan yang menyatakan semakin tinggi peradaban suatu bangsa atau semakin tinggi tingkat kemakmuran (welfare-state) suatu negara, maka unsur kepercayaan (yang bersifat magis dan mistis/nilai-nilai budaya setempat) akan semakin menurun.

Jika kata “pamali” begitu diyakini “kebenarannya” oleh (katakanlah) sebagian masyarakat Sunda, karena ia merupakan sebuah tradisi budaya lisan leluhur Sunda, maka tentu boleh-boleh saja, jika kata-kata “pamali” mewarnai setiap himbauan atau larangan kepada masyarakat. Misalnya: “Pamali, membuang sampah di sembarang tempat”, “Pamali, berjualan di tempat-tempat terlarang”. “Pamali merokok di tempat umum”, dan pamali-pamali lainnya. Tidak ada lagi pertanyaan: Mengapa tidak boleh ini dan mengapa tidak boleh itu. Karena jawabannya cukup satu kata: “Pamali!”. ***
--------------------------------
(Dede Mulkan, Dosen di Jurusan Ilmu Jurnalistik, Fakultas Ilmu Komunikasi - Unpad, kini sedang mengikuti program S3 Komunikasi)
Share


Keterangan Penulis Artikel:
Nama: Kang Dekan
E-mail: dekans@rad.net.id
Nama Institusi: Jurusan Ilmu Jurnalistik
Alamat Institusi: Fikom Unpad