KAMPANYE HITAM

"KAMPANYE HITAM "

Oleh: Drs. Hadi Purnama - 05/03/2009 - 22:00:51
Kata Kunci: kampanye hitam, pembunuhan karakter

KAMPANYE HITAM

Oleh Hadi Purnama

Theyre not just attacking me;theyre attacking you
- Barack Obama -

Sebuah iklan kampanye untuk Senator Hillary Clinton baru saja dilansir di sejumlah stasiun televisi di AS, dan sontak menjadi pembicaraan publik, khususnya di kalangan bloger. Sejatinya tidak ada yang terlalu istimewa dari iklan spot berdurasi 30 detik ini.
Isi pesannya sangat stereotip dengan penggambaran Hillary sebagai calonpresiden yang sangat mengutamakan keamanan nasional. Sehingga sangat cocok sebagai sebagai komandan tertinggi (commander in chief) dari sebuah negara adidaya seperti AS. Sebaliknya Barack Obama, rival politiknya yang kharismatis, justru digambarkan sebagai politisi yang terlalu sibuk berkampanye, terlalu banyak bicara dan sedikit mendengarkan.
Merebaknya polemik justru bukan dari pesan verbal. Bukan semata karena janji profokatif Hillary yang berencana menarik pasukan AS dari Irak, serta menangkap gembong terorisme Al-Qaeda dari Afghanistan. Perhatian publik justru tertuju pada isu kampanye hitam (black campaign) yang dilancarkan Hillary pada iklan tersebut.
Para bloger yang pro Obama menuding iklan politik ini sangat rasialis. Kubu Hillary dicap melakukan praktik kampanye hitam yang mencoba menonjolkan isu warna kulit. Dalam tayangan yang dicuplik dari YouTube, blog Daily Kos menganalisis penampilan fisik senator asal Illinois di iklan tadi jauh lebih hitam dari aslinya.
Meski kemudian disangkal oleh para pendukung fanatik Hillary, seraya menuduh balik isi blog Daily Kos sebagai hal terdungu dalam sejarah blog. Namun penyajian iklan kampanye Hillary yang menjurus pada isu rasialisme ini menjadi pergunjingan politik terpanas di AS.
Polemik kian memanas ketika blog.wired.com sengaja menampilkan versi asli iklan kontroversial yang diambil dari situs pengunduh video YouTube. Sehingga publik dapat menganalisis sendiri fakta kampanye hitam ini.
Akankah kampanye hitam yang dilontarkan pendukung Hillary, justru akan berhasil mendongkrak popularitas mantan first lady ini. Atau, sebaliknya menjadi bumerang politik, yang jutsru akan menguntungkan kubu Obama? Atau bisa jadi, karena jenuh dengan konflik berkepanjangan di kubu Demokrat, para pemilih justru akan mengalihkan suaranya kepada senator partai republik, John McCain. Yang jelas, bola panas akibat kampanye hitam ini akan terus bergulir liar.
Realitas Semu
Kita pernah punya pengalaman dengan kampanye hitam dalam perang wacana. Masih melekat dalam ingatan kita, di saat kredibilitas Megawati Soekarnoputri digoyang isu gender oleh lawan politiknya, sejarah justru mencatatnya sebagai presiden perempuan pertama di Indonesia.
Begitu pun kampanye negatif yang menerpa SBY empat tahun silam. Isu agama dilontarkan para rival politiknya untuk menjatuhkan kredibilitasnya. Hasilnya, malah sebuah antitesa, karena rakyat balik bersimpati seraya mengesampingkan isu agama yang dijadikan komoditas politik murahan para politisi haus kekuasaan. Kemenangan mutlak SBY dalam pilpres menjadi pembuktian berikutnya, kampanye negatif lebih sering kontra produktif dalam sebuah praktik berpolitik.
Terakhir, cagub Jawa Barat Agum Gumelar meradang dengan kampanye hitam yang terpampang di berbagai spanduk yang di pasang di beberapa sudut kota Bandung. Agum balik menuding pembuat spanduk berisi ejekan yang memlesetkan tagline pasangan cagub-wagub ini bermotifkan pembunuhan karakter (character assasination).
Pembunuhan karakter menjadi salah satu motif sekaligus tujuan kampanye hitam. Ini pernah menimpa para politisi kawakan seperti Anwar Ibrahim, Thaksin Sinavatra, Megawati, SBY, hingga Soetrisno Bachir. Tujuannya jelas menelanjangi pribadi serta melakukan delegitimasi. Sejatinya kampanye hitam tidak selalu merugikan korban, setidaknya pengalaman SBY dalam mengelola kampanye hitam menjadikan faktor penting dalam menggalang simpati publik.
Melawan Kampanye Hitam
Lazimnya, kampanye hitam dilancarkan sebagai jurus pamungkas untuk memukul lawan, ketika kampanye putih sudah dipandang tidak efektif. Media massa kerap dijadikan alat paling ampuh untuk mendelegitimasi lawan politik. Fakta atau sekadar rekaan, biasanya kampanye hitam diproduksi dan dikemas seakan-akan menjadi sebuah realitas.
Seakan menyadari peranannya yang digdaya, Georg Gerbner , mantan Annenberg School of Communication Universitas Pennsylvania, pernah berujar bahwa media massa mendominasi lingkungan simbolik manusia, selanjutnya mendistorsi pesan tentang realitas bagi pengalaman individu dan perangkat pengetahuan kita yang lainnya tentang realitas.
Tidak heran bila media massa dipilih sebagai instrumen penting dalam penyebarluasan kampanye hitam. Karena kemampuannya menciptakan simulakra (realitas semu), menyampaikan pesan secara simultan, mampu menjangkau wilayah yang sangat luas, menjadikan media massa sangat ampuh dalam sebuah kampanye hitam.
Di era hyper-competition, kampanye hitam bukan hanya dipraktikan di bidang politik, melainkan terjadi di hampir semua sektor kehidupan. Sulit memang menghadapi gempuran kampanye hitam, namun bukan berarti tidak ada cara untuk menangkalnya. Melalui keterbukaan dan kejujuran menjadi kunci utama menangkis datangnya kampanye hitam. Karena sejatinya kampanye hitam sulit untuk dihilangkan dalam praktik politik.
Melakukan komunikasi dan membangun dialog merupakan langkah yang paling dianjurkan. Paling tidak hal ini lebih bermartabat ketimbang menyellesaikan masalah dengan pengerahan massa, terlebih lagi melalui cara kekerasan. Klarifikasi sebagai upaya mengcounter issue bisa efektif dengan media massa, karena selain cepat, menjangkau wilayah yang luas, juga sekaligus membangun kemitraan dengan insan media. Kemampuan media membangun opini publik juga sangat efektif, ketimbang melalui jalur komunikasi antar personal.
Gunakan hak jawab melalui media massa, menjadi solusi lain yang bisa ditempuh. Bila diperlukan, ketika dialog dan upaya mediasi mengalami jalan buntu, maka upaya penntutan hukum sebagai jurus pamungkas Kemampuan media membangun opini publik juga sangat efektif, ketimbang melalui jalur komunikasi antar personal.
Tetapi yang terpenting, keterbukaan dan kejujuran menjadi kunci utama menangkal munculnya kampanye hitam. Ibarat pepatah ada asap ada api, begitu pun dengan kampanye hitam. Tidak mungkin muncul isu negatif bila tidak faktor pemicu. Kejujuran identik dengan upaya seseorang yang mampu menampilkan panggung depan sejalan dengan panggung belakang..
Panggung politik memang tidak mungkin terbebas sepenuhnya dari kampanye hitam. Persoalannya, bagaimana kita memaknainya: apakah sebagai ancaman, bahan introspeksi, atau bahkan sebuah peluang emas dalam merebut simpati publik untuk meraih kemenangan!
Walahualam bisawab.


Penulis adalah Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Bandung ( Stikom)-Bandung, penga-mat masalah Komunikasi dan penggiat blog www.kartun-bandung.blogspot.
Share


Keterangan Penulis Artikel:
Nama: Drs. Hadi Purnama
E-mail: hadi_pnama@yahoo.co.id
Nama Institusi: Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (Stikom) bandung
Alamat Institusi: Jl. PHH Mustopha No. 72 bandung