Kepemimpinan yang Membebaskan? Tantangan Eksekutif-Profesional Menumbuhkan Reputasi

"Kepemimpinan yang Membebaskan? Tantangan Eksekutif-Profesional Menumbuhkan Reputasi"

Oleh: Andre Vincent Wenas - 12/10/2009 - 22:27:39
Kata Kunci: Membebaskan, kebebasan, freedom, profesional, reputasi, legacy, merdeka, intelektual

Kepemimpinan yang Membebaskan?
Tantangan Eksekutif-Profesional Menumbuhkan Reputasi

Oleh : Andre Vincent Wenas

Kemerdekaan (independence) sudah kita selesaikan dengan proklamasi 64 tahun lampau. Namun persoalan kebebasan (freedom) masih panjang serta berkelok jalannya. Karena, seperti ditulis Ignas Kleden dalam kata pengantar buku Soedjatmoko (1984), hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain memang dapat diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya, tetapi peralihan dari cara hidup bangsa terjajah ke cara hidup manusia bebas ternyata adalah persoalan lain lagi yang sangat besar dan menantang. Dibutuhkan vitalitas kebudayaan penuh semangat serta kepemimpinan berkarakter yang berdedikasi tinggi.

Belenggu keterkungkungan di alam pikir mitis mesti dibongkar dan ketakber-dayaannya untuk meretas jalan ke alam pikir ontologis dan fungsional mesti terus diperjuangkan. Seorang eksekutif profesional idealnya adalah juga seorang intelektual yang dalam praksis kesehariannya ikut bergumul dengan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakatnya. Tidak bisa dilepaskan kaitan dirinya dengan orang-orang di lingkungan kantornya, lingkungan tempat tinggalnya, lingkungan pergaulan sosialnya yang lebih luas. Bahkan masyarakat kota dan bangsanya, sampai akhirnya keprihatinan (concern)nya terhadap persoalan komunitas global. Praksis yang konsisten dan persisten inilah yang membangun reputasi dan keter-percayaannya.

Status keterlibatannya adalah aktif. Prof. Sartono Kartodirjo (1984), mengingatkan: Dalam kolektivitas sosial terjadilah suatu proses interaksi antara pemimpin dan pengikut, yang pertama dengan kekuasaannya mempengaruhi yang kedua dan mengarahkan tindakannya menuju kepada tujuan kolektif atau memolakan kelakuan berdasarkan nilai-nilai tertentu. Status pemimpin di dalam struktur sosial masyarakatnya membawa fungsi atau peranan untuk menguasai, mengatur dan mengawasi agar tujuan kolektif tercapai dan terjaga nilai-nilai sosial-kultural masyarakatnya.

Adalah panggilan hidup seorang eksekutif-profesional-intelektual untuk menemukan tujuan hidupnya dan merealisasikannya sekuat tenaga. Cita-cita manusia disadari atau tidak adalah menjadi manusia utuh (Franz Magnis-Suseno, 2009). Di sekitar kita , kerap dijumpai manusia yang bengkok, miring, berat sebelah, aneh, setengah lumpuh, tidak utuh. Persis di sinilah Aristoteles menawarkan jalannya (The Nicomachean Ethics). Ide dasar Aristitoteles adalah bahwa manusia akan hidup bijaksana manakala ia semakin mengembangkan diri secara utuh. Segala potensialitasnya dinyatakan (dibuat jadi kenyataan) agar manusia dapat membangun suatu kehidupan yang bermakna dan bahagia. Kehidupan bermakna (dan oleh karenanya membahagiakan) dapat dicapai dengan upaya manusia mengembangkan diri, membuat segala potensinya jadi nyata, dan akhirnya membentuk pribadi yang kuat-utuh. Dan, menjadi pribadi yang kuat-utuh artinya berhasil dalam kehidupan sebagai manusia. Itulah yang membuat kita bahagia, itulah kehidupan yang bermakna (berarti).

Senada dengan Aristoteles, Bung Karno dalam risalah Indonesia Merdeka menegaskan bahwa setelah kemerdekaan (independence) yang dilukiskannya sebagai jembatan-emas, maka setelah menyeberanginya, segenap rakyat Indonesia (istilah beliau: kaum Marhaen) mestilah, bergerak tak lain tak bukan buat mencari hidup dan mendirikan hidup. Hidup kerezekian, hidup kesosialan, hidup kepolitikan, hidup kekulturan, hidup ke-agamaan pendek kata hidup kemanusiaan yang leluasa dan sempurna, hidup kemanusiaan yang secara manusia dan selayak manusia. Dalam narasi kita sekarang, berkembang menjadi manusia seutuhnya di dalam udara dan nafas kebebasan (freedom).

Manusia seutuhnya (whole-person), dalam model yang digambarkan Stephen R. Covey (2004) adalah manusia yang berhasil memenuhi kebutuhan universalnya, yaitu: to live (demi hidup), to love (mencintai-dicintai), to learn (belajar), dan to leave a legacy (meninggalkan suatu warisan mulia dalam hidup, heritage).

Membangun manusia seutuhnya adalah lewat pembangunan pribadi yang kuat, yaitu pribadi yang berkarakter. Karakter kepemimpinan, seperti disebut Anthony DSouza SJ (2003), ada empat yang utama: goal orientation, enablement, concern dan self-development. Berikut penjelasan-nya:

1. Goal orientation. The leader sees the bigger picture, and understands the purpose of the life and work of the group or organization. Memimpin (berarti mendahului, berjalan di depan) berimplikasi bahwa sang pemimpin punya penglihatan tembus-jaman ke de-pan serta tahu arah yang dituju.

2. Enablement. Effective leaders seek to enable others to experience that life in its fullness. Gaya hidup sang pemimpin serta caranya berelasi dengan orang , selain menunjukan siapa dirinya, ia juga menolong orang lain untuk tumbuh menjadi dirinya sendiri masing-masing se-cara maksimal.

3. Concern. Human beings are the most important resource leaders have. Tanpa orang, sumber daya material dan finansial jadi tak berarti. Bahkan di sebuah pabrik yang paling otomatis sekalipun, kepedulian pemimpin tetaplah pada orang. Kepemimpinan adalah melayani kebutuhan kelompoknya. Pemimpin mesti mengedepankan misi organisasi melalui pelbagai fungsi seperti: goal setting, planning, organizing, programming, motivating, coordinating, and evaluating. Pemimpin juga mesti mengupayakan sekuat tenaganya demi menciptakan iklim organisasi yang kondusif untuk pengembangan sumber daya manusia sepenuh-penuhnya.

4. Self-development. While developing others, leaders also need to develop a healthy self-image and a positive I-can-win attitude. Banyak orang melewati masa hidupnya tanpa pernah menemukan siapa dirinya yang sesungguhnya. Sebagian dari mereka hidupnya telah diformat oleh pelbagai pengalaman pahitnya, yang mengakibatnya cara berpikirnya yang negatif, yang pada gilirannya membuat kinerja hidup mereka jadi negatif. Konsep diri yang negative terpancar lewat rasa-diri tidak pantas, gagal mengembangkan kemampuan diri, dan gagal berprestasi. Namun, konsep-diri yang negatif itu sebetulnya adalah suatu hasil pembelajaran so you can also unlearn and replace it with a more positive self-image.

Di atas itu semua, keberanian (courage) adalah pemicu geraknya. Keberanian adalah salah satu keutamaan pemimpin berkarakter yang menjadi titik mulai eksekusi. Pertimbangkan wejangan yang di-sampaikan Peter Drucker, sang Begawan manajemen ini: Courage, rather than analysis dictates the truly important rules for identifying priorities. Pick the future as against the past; focus on opportunity ra-ther than on problems; choose your own direction rather than climb on the bandwagon; and aim high, aim for something that will make a difference, rather than for something that is safe and easy to do. (seperti dikutip oleh Anthony DSouza, 2003). Maka, eksekutif-profesional-intelektual sejati adalah mereka yang mengembangkan keutamaan-keutamaan (virtues)nya. Kata mengembangkan di sini bisa diartikan sebagai proses seumur hidup untuk memikirkan (secara kritis-dialektis) dan melakukan (secara konsisten-persisten) semua keutamaan itu. Proses pendidikan formal (di samping lingkungan keluarga dan pergaulan) adalah salah satu jalan yang terpenting untuk mewujudkannya.

Dr. Kwame Nkrumah, presiden Ghana tahun 1960-an, dalam bukunya, I Speak of Freedom, menyatakan: The purpose of all true education is to produce good citizens He learns to shoulder responsibilities, to share with his fellows both the good and bad things of life, to understand the importance of team spirit and to take a personal pride in the success of the school community. And, perhaps more important still is the fact that he learns to live in tolerance and co-operation with his fellow students. Another facet of the training in citi-zenship which a student can receive here is discipline Freedom without law is anarchy. And discipline is just as important on the playing fields as in the classrooms. You know full well that unless you are prepared to keep to the rules of the game, neither you yourself nor any of the other players are going to enjoy it.

Kepemimpinan yang berkarakter (pribadi yang kuat) memang dibangun lewat disiplin, belajar bertanggung-jawab, ber-bagi dalam kehidupan, belajar menerima yang lain (perbedaan), taat aturan bersama, punya rasa bangga atas keberhasilan komunitas, dan keutamaan lainnya. Itulah disiplin yang mengarahkan ke kehidupan yang bermakna, hidup yang berhasil, dan yang artinya hidup berbahagia, tujuan akhir semua manusia.

Mengisi kemerdekaan adalah dengan menjalani hidup yang bermakna, artinya hidup yang membebaskan (freedom) seluruh potensialitas kita menjadi nyata, menjadi manusia utuh. Melewati jalan raya menuju kepemimpinan yang berkarakter, yang bisa membebaskan segala potensialitas dirinya dan masyarakatnya memang ada harga atau konsekuensi yang harus ditanggung. Pada akhirnya, reputasi dan kepercayaan (trust) dibangun lewat apa yang telah kita kerjakan (bukan apa yang kita janjikan akan dikerjakan). Bukti bukan janji. Orang bilang, you cannot ask for trust, you have to earn for it! (Engkau tak bisa minta kepercayaan, engkau mesti memperjuangkannya! lewat sejarah hidupmu). Blood, sweat and tears adalah harganya. Reputasi dan kepercayaan itu muncul dari lintasan sejarah kita sendiri, ia genuine, apa adanya, tak bisa dipalsukan. Yang artifisial dan dibuat-buat akan dikikis dan terbuka kedoknya oleh ahli waris sejarah.

Sebagai penutup, mari renungkan baik-baik pesan John F. Kennedy, presiden Amerika yang legendaris dalam bukunya yang terkenal, Profiles in Courage, yang ditulis saat ia masih menjadi seorang senator muda, A man does what he must in spite of personal consequences, in spite of obstacles and dangers and pressures and that is the basis of all human morality. Gajah mati tinggalkan gading, harimau mati tinggalkan belang, manusia mati tinggalkan nama (reputasi). Inilah warisan sang pemimpin. Sebuah reputasi dari kepemimpinan yang membebaskan.

Referensi:
1. Anthony DSouza, Developing The Leader Within You: Strategies for Effective Leadership, Haggai Centre For Advance Leadership Studies, Singapore, First Edition: 1994, Reprint: 2003.
2. C.A. van Peursen, Strategi Kebudayaan, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 1976.
3. Franz Magnis-Suseno, Menjadi Manusia: Belajar dari Aristoteles, Penerbit Kanisius, Yogyakarta, 2009.
4. John F. Kennedy, Profiles in Courage, (Abridged, Young Readers Edition), Harper & Row Publishers, New York, 1961.
5. Kwame Nkrumah, I Speak of Freedom: A Statement of African Ideology, Frederick A. Praeger Publisher, New York, 1961.
6. Robert Heller, Roads to Success: Put into Practice The Best Business Ideas of Eight Leading Gurus, Dorling Kindersley, London, 2001.
7. Sartono Kartodirdjo (penyunting), Kepemimpinan Dalam Dimensi Sosial, LP3ES, Jakarta, 1984.
8. Soedjatmoko, Etika Pembebasan: Pilihan Karangan tentang Agama, Kebudayaan, Sejarah dan Ilmu Pengetahuan, LP3ES, Jakarta, 1984.
9. Soekarno, Indonesia Merdeka, (risalah yg ditulis Bung Karno tahun 1933), Kreasi Wacana, Yogyakarta, 2007.
10. Stephen R. Covey, The 8th Habit, From Effectiveness to Greatness, Free Press, New York, 2004.

Penulis: Andre Vincent Wenas, MM, MBA., adalah praktisi manajemen/Chief of Corporate Human Capital di Tudung Group, pemerhati masalah sosial, dosen tamu, pembicara seminar dan kolomnis di beberapa media-massa. Dapat dihubungi via email: andre.v.wenas@gmail.com

Pendidikan formal:
S2: Monash University (Australia): Business Administration (2004); IPMI Business School (Jakarta): Management. (2005); S1: Universitas Padjadjaran, Bandung, Communications Science (1991). Non-degree: Advance Leadership Program, Haggai Institute, Maui-Hawaii, USA (2008); Marketing Strategy Course, Asian Institute of Management (AIM), Manila, Philippines (1996); Human Resource Management & Benchmarking, Organization Dynamic, Singapore (1995); Program Matrikulasi, Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Driyarkara, Jakarta (2008-2009).

*) Tulisan ini dimuat di Majalah Forum Manajemen Prasetiya Mulya, edisi September-Oktober 2009, terbitan Prasetiya Mulya Business School.

-----
Share


Keterangan Penulis Artikel:
Nama: Andre Vincent Wenas
E-mail: andre.v.wenas@gmail.com
Nama Institusi: Majalah Forum Manajemen Prasetiya Mulya
Alamat Institusi: Jakarta